Advertisement Section

Wajah-Wajah Bumi

Tegur dan Syukur

Mentari bergerak naik
Seraya memberi cahaya dengan percik-percik sederhana

Manusia di bawahnya
Menggelengkan kepala
Satu dua berkeluh kesah
Sembari melenggang dengan tergesa

Manusia di bawahnya
Namun pada poros yang berbeda
Matanya berbinar cerah
Beberapa kali bibir atas dan bawahnya bertegur sapa
Menggumamkan syukur dengan penuh suka cita
Meski perut sudah kosong dua hari lamanya
Bersyukur sebab masih diberi nikmat hidup, pikirnya.

 

Mimpi dan Mimpi

Matahari menghilir
Menciptakan kelam pada langit tanpa sihir

Seorang pria paruh baya menepuk keras kemudi
Tangannya dengan kasar melonggarkan dasi
Baru menerima gaji
Namun hutang sudah ditagih-tagih

Dua orang anak laki-laki
Tertawa sembari menari
Namun kemudian salah satu di antaranya berhenti
Ia melirik seseorang dari balik kemudi
Berpakaian rapi, dengan leher terkalungi dasi
Cita-citaku, ingin jadi sukses seperti pria itu, teguhnya dalam hati.

 

Baca Juga: Negeri Bawah Angin 

 

Raih dan Pulih

Bulan menerangi setiap lekuk jalanan desa
Memanjakan retina seluruh penduduk desa

Sekelompok wanita paruh baya melihat ke satu titik yang sama
Televisi, menampilkan seorang gadis kota
Semua sibuk dalam imajinasi
Berharap dandanan dan pakaian itu dapat mereka raih

Sedang di pulau sebrang
Gadis kota mengerang
Rambut palsu ia lepaskan
Butir bahan kimia ia telan

 

Matahari dalam Hari-hari

Sang surya kembali menyinari cakrawala
Membagi sinar nan hangatnya dengan penuh suka cita

Lantas bunga matahari menoleh tanpa diminta
Tersenyum cerah ke atas pemenuhan janji yang ia terima
Mentari memang berjanji akan menemuinya,
Tanpa lelah
Tanpa mengharap upah
Tanpa pernah alfa meski hanya sehari saja

Sampai akhirnya
Bunga matahari itu yang justru akan lebih dulu meninggalkannya

Mentari naik ke atas, beberapa langkah
Hangatnya berubah menjadi panas yang mengakibatkan gerah
Keringat beberapa manusia jatuh
Sebagian besar menebar keluh
Berharap hujan mampu luruh
Memberi kenyamanan lewat sejuknya yang biasa tersuguh

Mengetahui itu
Mentari menunduk lesu
Ia pun melakukan evaporasi pada air-air di seluruh permukaan bumi

Hujan turun
Deras dan kumpulan butirnya terayun-ayun
oleh angin

Sebagian manusia
Kembali menampilkan wajah tak suka
Jadwal yang sudah mereka susun tampak porak-poranda

Berantakan
Beberapa harapan bahkan harus terpatahkan
Seperti sebagian dahan-dahan

Dari balik awan tebal,
Sang surga mengintip
Ia pandangi wajah kesal

Segera sang surya
Merencanakan sesuatu yang indah

Hingga ketika hujan reda
Pembiasan cahaya mengakibatkan pelangi tercipta
Sebagian besar manusia berdecak kagum
Senyum sebagian besar dari mereka terkulum

Namun di sisi lain
Satu dua manusia berduka
Sebab keindahan mentari
Tak dapat mereka rasa

Kesal
Sial
Dan parsial

Mentari turun ke peradabannya
Sadar sebab meski ia sumber cahaya
Namun bukan ia sumber rasa bahagia

Syukur tiap manusia telah sirna
Pandangan mereka bahkan tak seluas antartika
Mentari tak merasa gagal
Sebab rasa sabarnya sudah terlalu tebal

Tangerang, 18 Mei 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Sepasang Sulung: Tentang Perjuangan Pahit
Next post Transformasi Pendidikan pada Era Milenial